(021) 78848321 / e-learning@penabulu.id

MENU

Pelatihan

Bikin Data Jadi Visual yang Bercerita dan Memikat

Tulisan dan gambar di gua-gua atau prasasti pun disebut data. Itu zaman prasejarah dan kuno, bagaimana penampilan data pada era sekarang?

Jika data hanya ditampilkan dalam format excel atau chart jadul, kita mungkin tak akan menoleh. Teknologi yang semakin berkembang, muncul tampilan data melalui visualisasi data dan data storytelling. Data pun dikemas jadi ciamik. Topik inilah yang dibawakan Melita Oktanawati dan Ester Margaretha pada pelatihan “Data Visualization”, Kamis, 24 Juni 2022.

Data itu penting. Sebab ia kumpulan informasi atau keterangan tentang suatu hal, yang terlahir dari sebuah proses, dan perlu disampaikan. Data bisa berupa simbol, warna, angka, dan kata-kata, juga cerita. Serunya, pada zaman yang terus mutakhir, data-data yang dipresentasikan itu dapat bergerak.

Data visualisasi merupakan representasi data dalam bentuk grafik, plot, infografis, dan lain-lain. Tampilan visualisasi informasi tersebut mengkomunikasikan hubungan data yang kompleks dan wawasan berbasis data dengan cara yang mudah dipahami.

Biasanya, data disajikan dalam bentuk chart dengan model konseptual, misalkan struktur organisasi, bisnis, atau proses rekrutmen. Walakin, visualisasi data itu sebenarnya adalah infografik, tabel, grafik, chart, dan dashboard. Dua terakhir ini paling umum digunakan dalam visualisasi data.

Kita memang harus mengetahui jenis-jenis visual agar data yang disampaikan sesuai dengan bentuk. Prinsip-prinsip dasar chart dan dashboard bisa dipelajari di bagan bawah ini.

Bentuk-bentuk tersebut bisa kita gunakan melalui aplikasi Canva, Flourish Studio, dan Google Data Studio. Serunya lagi, dengan 3 tools tersebut, kita bisa membuat data storytelling. Data visualization dan data storytelling itu bukan terpisah—visualisasi data bantu mengubah informasi yang kompleks menjadi format yang lebih mudah dipahami—peran data storytelling di sini untuk melengkapi informasi.

Tiga aspek komunikasi dalam data storytelling, yakni naratif, visual, dan data. Tiga aspek tersebut menciptakan interaktif data dan cara pemecahan akurat sehingga merepresentasikan data yang komplek, memisahkan tren dan pola yang tidak terlihat di spreadsheet.

Seperti biasa, sebelum pelatihan berakhir, peserta terbagi beberapa kelompok, dan langsung mempraktekkan. Usai latihan, mereka langsung tanya coaching. Keseruan tersebut sulit diceritakan di sini. Ah, coba kamu hadir.

Bagikan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Penyedia Layanan

Pakar/ Narasumber

Jumlah Peserta

9 Orang

Dokumen terkait

Berkas-berkas kegiatan ini hanya tersedia untuk para Organisasi Masyarakat Sipil yang terdaftar sebagai mitra program Organizational Effectiveness dari the David and Lucile Packard Foundation.

Jika Anda adalah salah satu dari mitra tersebut namun mengalami kesulitan dalam mengakses berkas, silakan layangkan email ke coaching.dlpf@penabulu.id dan berikan penjelasan Anda. Terima kasih!

Masuk ke Akun Anda

[ultimatemember form_id="1821"]

(021) 78848321 / e-learning@penabulu.id

Adalah kerjasama antara Yayasan Penabulu dan The David & Lucile Packard Foundation
@2021. All Rights Reserved